MEDAN, JurnalPakar.com – Peringatan Milad Syarikat Islam ke-121 yang jatuh pada 16 Oktober 1905 – 16 Oktober 2026 sejatinya bukan sekadar seremoni bertambahnya umur organisasi. Momen ini harus menjadi ruang refleksi untuk kembali meneguhkan komitmen dalam membangun kemandirian ekonomi umat, mencerdaskan kehidupan melalui ilmu pengetahuan, serta memperkuat kontribusi umat bagi bangsa dan negara.
Jika menengok sejarah, Syarikat Islam mengajarkan satu prinsip fundamental bahwa kebangkitan umat bermula dari kekuatan ekonomi. Perjuangan yang dirintis Haji Samanhudi lewat gerakan perdagangan batik, kemudian dimatangkan secara pemikiran dan gerakan organisasi oleh H.O.S. Tjokroaminoto, menjadi bukti nyata. Warisan tersebut memberi pelajaran bahwa umat Islam harus mampu berdiri di atas kaki sendiri, mengelola potensi yang dimiliki, dan mewujudkan kesejahteraan secara kolektif.
Di tengah dinamika dan tantangan zaman saat ini, kita tidak boleh terjebak hanya membicarakan politik praktis hingga melupakan pilar utama yakni ekonomi umat. Politik penting, namun tidak akan kuat tanpa ditopang kemandirian ekonomi. Karena itu, penguatan kewirausahaan, koperasi, UMKM, dan pemberdayaan masyarakat harus menjadi prioritas bersama. Ekonomi yang mandiri adalah kunci untuk membuka lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan, dan memperkuat daya saing umat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam konteks inilah, Trilogi Perjuangan Syarikat Islam yakni “Sebersih-bersih Tauhid, Setinggi-tinggi Ilmu, Sepandai-pandai Siasah” tetap relevan dan harus menjadi kompas perjuangan.
Sebersih-bersih Tauhid sebagai fondasi moral dan integritas perjuangan. Setinggi-tinggi Ilmu sebagai bekal untuk menjawab tantangan zaman dengan pengetahuan dan inovasi. Dan Sepandai-pandai Siasah sebagai kecerdasan dalam menyusun strategi, mengelola organisasi, serta memperjuangkan kepentingan umat secara arif dan bijaksana.
Ketiga pilar tersebut harus berjalan seiring dan seimbang untuk mencetak kader yang berkarakter kuat, berwawasan luas, dan mampu memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Pemuda Muslimin Indonesia Sebagai Penerus Estafet Perjuangan
Sebagai organisasi yang serumpun dengan Syarikat Islam, Pemuda Muslimin Indonesia memikul tanggung jawab moral dan historis untuk menjaga keberlangsungan estafet perjuangan serta melahirkan generasi muda yang berintegritas, berilmu, dan mandiri secara ekonomi.
Milad ke-121 ini harus menjadi momentum kebangkitan bagi Pemuda Muslimin Indonesia untuk semakin serius memperkuat sistem kaderisasi, membangun jiwa kewirausahaan, meningkatkan mutu pendidikan, dan memperluas karya pengabdian di tengah masyarakat. Pemuda tidak boleh berhenti pada kebanggaan akan romantisme sejarah, melainkan harus berani melanjutkan perjuangan itu melalui karya konkret dan aksi nyata.
Konsolidasi organisasi juga tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial belaka. Harus ada program yang terukur, kolaborasi yang produktif, dan dampak yang benar-benar dirasakan langsung oleh umat. Jika Syarikat Islam telah mewariskan nilai dan semangat perjuangan, maka generasi muda hari ini memiliki kewajiban untuk menjaga, mengembangkan, dan mengaktualisasikannya sesuai konteks zaman.
Pada akhirnya, kehebatan sebuah organisasi tidak diukur dari seberapa panjang usianya, melainkan dari seberapa besar kemampuannya menghadirkan perubahan dan membawa kesejahteraan bagi umat dan bangsa.
Sebagai Sekretaris Pimpinan Wilayah Pemuda Muslimin Indonesia Sumatera Utara, saya mengajak seluruh kader untuk menjadikan Milad ke-121 Syarikat Islam ini sebagai momentum memperkuat persatuan, memperkokoh tauhid, meninggikan ilmu, mengasah siasah, dan membangun kemandirian ekonomi umat.
Selamat Milad Syarikat Islam ke-121. Jangan hanya mewarisi besarnya nama, tetapi teruskanlah api perjuangannya. Karena hakikat perjuangan yang sejati bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan menghadirkan karya nyata untuk kemajuan umat dan bangsa.
Penulis:
Chaerul Umam Sinaga, S.Sos.
Sekretaris Pimpinan Wilayah Pemuda Muslimin Indonesia Sumatera Utara












