LANGKAT, JurnalPakar.com – (18/06/2026) Salam Lestari. Di Dusun Lau Buluh, Desa Telagah, Kecamatan Sei Bingai, Kabupaten Langkat, suara sungai masih lebih nyaring dari deru kendaraan. Hutan Leuser berdiri sebagai rumah rangkong, orangutan, burung kuau raja, hingga kura-kura baning. Masyarakatnya hidup berdampingan dengan alam yang sudah menjaga mereka selama ratusan tahun.
Berbeda dengan banyak wilayah penyangga hutan yang memilih menebang pohon demi kayu dan membuka lahan, warga Lau Buluh mengajukan pertanyaan berbeda: bagaimana sejahtera tanpa kehilangan hutan? Jawabannya jatuh pada ekowisata.
Pilihan ini lahir dari kesadaran kolektif. Hutan hijau, udara sejuk, aliran sungai jernih, lubuk lindung tempat ikan jurung bermain, serta kearifan Adat Karo dianggap aset paling berharga. Melalui ekowisata berbasis kearifan lokal, Lau Buluh membuktikan konservasi dan ekonomi bisa berjalan beriringan. Pemuda desa kini dilatih jadi pemandu wisata, kelompok perempuan mengembangkan kuliner Karo dan kerajinan tangan, sementara homestay warga mulai menerima tamu dari berbagai daerah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Ekowisata mengubah cara pandang kami terhadap hutan. Dulu hutan hanya dipandang untuk diambil manfaatnya. Sekarang semakin terjaga hutannya, semakin besar manfaat yang kami rasakan,” ujar Purnama Ginting, Aktivis Pemerhati Lingkungan dan juga sebagai perwakilan masyarakat Lau Buluh.
Namun, perjalanan membangun Lau Buluh sebagai contoh desa konservasi belum selesai. Masih banyak infrastruktur, pelatihan pemandu, pengembangan produk, dan promosi yang perlu dikuatkan agar cerita baik ini sampai ke dunia.
Melihat potensi besar ini, REAKSI – Relawan Antisipasi Kebencanaan dan Lingkungan Hidup Pesisir turut mengajak Pemerintah Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara, serta para donatur dan pegiat lingkungan untuk bersama-sama mendukung wacana pengembangan ekowisata Lau Buluh.
Karena itu, pengembangan ekowisata Lau Buluh bukan hanya tanggung jawab warga Telagah. Ini menjadi harapan bersama. Masyarakat Lau Buluh bersama REAKSI sangat membutuhkan dukungan moril dan dukungan biaya dari para donatur, pemerintah, serta siapa saja yang percaya bahwa alam layak dijaga dan masyarakat desa layak sejahtera. Setiap ide, kunjungan, donasi, hingga penyebaran informasi akan menjadi bagian dari perjalanan Lau Buluh menuju masa depan yang lebih mandiri dan tetap hijau untuk anak cucu.
Narasi: Bang Taufik Abdullah
(Zevri Hutabarat)











